Monday, May 17, 2010

Bahagia = Memiliki Rasa Hidup yang Benar

JAKARTA, KOMPAS.com — Kita sering mengira, bila keinginan terbesar kita terpenuhi, kita akan merasa senang selamanya. Sebaliknya, bila keinginan tidak terpenuhi, maka kita mengira akan merasa susah selamanya. Padahal, rasa hidup yang sebenarnya adalah sebentar senang dan sebentar susah.

Karena sering mengira bahwa bila keinginan terbesar terpenuhi kita akan merasa senang selamanya, kita sering mengejar sesuatu secara mati-matian dan menghindari sesuatu yang tidak kita ingini juga secara mati-matian. Pengertian yang salah mengenai sumber kebahagiaan ini dapat menyebabkan kita mengejarnya, dan dengan demikian kita justru dapat merasa sengsara.

Tulisan pada edisi yang lalu sedikit menjelaskan bagaimana kita dapat mencapai kebahagiaan menurut Psikologi Hidup Bahagia dari Ki Ageng Suryomentaram. Kita dapat mengalami surga tabah/tatag dan memiliki rasa tenteram bila memahami bagaimana keinginan-keinginan yang bersifat mulur–mungkret (berkembang-menyusut). Itulah yang menyebabkan kita sebentar senang karena keinginan yang terpenuhi, dan sebentar susah karena keinginan yang tidak terpenuhi.

Kita akan merasa tenang dengan memahami bahwa tidak ada rasa senang yang terus-menerus, dan tidak ada pula rasa susah yang terus-menerus. Dengan demikian, kita tidak perlu gentar bila keinginan-keinginan tidak tercapai. Toh kita hanya akan susah sebentar, dan akan kembali senang karena keinginan lain yang terpenuhi.

Dengan mengenali keinginan-keinginan sendiri, dengan memiliki pengetahuan mengenai rasa pribadi (pangawikan pribadi), kita dapat merasa bebas. Sebaliknya, tiadanya pengertian tentang rasa pribadi akan menghasilkan konflik-konflik dengan diri sendiri dan juga dengan orang lain.

Hal tersebut di atas dapat dilihat dalam contoh ketika kita mengalami konflik karena keinginan-keinginan kita bertentangan. Keinginan untuk langsing, misalnya, membuat kita menolak makanan. Sementara itu, keinginan untuk mengusir rasa lapar dan menikmati makanan kegemaran mendorong kita untuk menikmati makanan.

Keinginan yang bertentangan (berkonflik) ini membuat kita merasa susah (sengsara). Namun, bila keinginan-keinginan ini diamati dan dimengerti, keinginan-keinginan ini akan mereda, dan kita hanya merasa susah sebentar.

Demikian juga ketika keinginan kita bertentangan dengan keinginan orang lain, bila kita amati, kita mengerti, maka keinginan itu akan mereda. Dengan demikian, reda pula konflik yang terjadi.

Rasa hidup yang benar
Senang dan susah adalah rasa hidup. Seperti dijelaskan di atas, kita sering mengira bila keinginan terpenuhi, kita akan senang selamanya. Selain itu, kita juga sering mengira bahwa keadaan atau atribut tertentu merupakan sumber kebahagiaan.

Contohnya, kita sering mengira bahwa orang yang kaya itu pasti selalu senang dan sebaliknya orang miskin itu selalu susah. Ternyata sama saja: baik kaya maupun miskin sama-sama sebentar senang dan sebentar susah, silih berganti. Sekali lagi, dalam hidup ini tidak ada hal yang layak dikejar secara mati-matian atau dihindari secara mati-matian.

Rasa hidup yang benar menurut Suryomentaram, tokoh Psikologi Jawa, adalah rasa hidup seseorang yang merasa sebentar senang dan sebentar susah seperti yang telah dijelaskan di atas.

Rasa hidup yang benar dapat dialami bila seseorang bertindak sesuai dengan 6-sa: sapenake, sabutuhe, saperlune, sacukupe, samestine, dan sabenere. Bila kita dalam bertindak berpegang pada prinsip tersebut (dengan enak, sesuai kebutuhan, seperlunya, secukupnya, semestinya, dan sebenar-benarnya), kita dapat memiliki rasa hidup yang benar: sebentar senang, sebentar susah.

Dengan demikian, kita tidak akan merasa sengsara selamanya bila suatu keinginan tidak tercapai, dan mengira dapat senang selamanya bila mencapai suatu keinginan.

Keinginan itu salah?
Keinginan yang terpenuhi menimbulkan rasa senang, dan sebaliknya keinginan yang tidak terpenuhi menimbulkan rasa sengsara. Orang yang mengejar keinginan justru dapat merasa susah (sengsara).

Dengan berpegang pada pernyataan-pernyataan tersebut, bisa jadi kita lalu beranggapan bahwa adanya keinginan-keinginan itu menyebabkan kita tidak bahagia. Semakin banyak keinginan, semakin banyak yang tidak tercapai, membuat kita merasa sengsara.

Mungkin ada yang berpendapat bahwa lebih baik membuang keinginan-keinginan, daripada menjadi kecewa atau sakit hati bila tidak terpenuhi. Ada yang menyimpulkan bahwa kita dapat hidup tenteram bila tidak memiliki banyak keinginan?

Seorang ibu dibuat pusing oleh putranya (9 tahunan) yang terus-menerus menyodorkan berbagai permintaan. Terutama pada waktu luang, ia selalu penuh permintaan, seperti membeli makanan kecil, makanan berat, mainan, CD game, hingga permintaan membeli benda-benda yang mahal, seperti ponsel dan sebagainya.

Bila ibunya berusaha mengendalikan agar ia tidak meminta sesuatu yang tak dapat dipenuhi atau meminta supaya si anak mengendalikan keinginan, si anak akan mengatakan, ”Ibu tidak pernah membuat anaknya senang”, ”Bilang saja ibu tidak boleh”, dan berbagai kalimat lain yang menyerang ibunya.

Apa yang terjadi dalam kasus ini adalah usaha si ibu agar anaknya menekan keinginan-keinginan yang ada. Akibatnya, si anak merasa ditekan sehingga ia pun balik menyerang ibunya dengan kata-kata.

Jadi, usaha untuk mengendalikan keinginan dengan cara seperti ini sebenarnya percuma saja. Selain menghasilkan serangan balik, toh keinginan-keinginan si anak semakin hari tidak semakin berkurang.

Apa yang diajarkan oleh Suryomentaram bukanlah pesan untuk menekan atau meniadakan keinginan, melainkan agar kita menjadi pengamat atas keinginan-keinginan kita sendiri. Dengan mengamati (sebagai pengamat yang netral) keinginan kita itu, tanpa menghakimi, tanpa usaha untuk meniadakan, kita akan menjadi lebih tenang.

Penderitaan iri dan sombong
Menurut Suryomentaram, apabila seseorang mengerti bahwa rasa orang sedunia sama saja, bebaslah ia dari penderitaan iri hati dan sombong, kemudian dapat masuk surga ketenteraman. Dalam segala hal ia bertindak sesuai dengan prinsip 6-sa yang telah dijelaskan di atas.

Bagaimana dengan orang yang mengalami iri hati dan sombong? Orang yang iri ingin lebih unggul dari orang lain. Meski ia mengenakan pakaian apik, punya rumah indah, dan sebagainya, bila ada orang lain yang lebih unggul, ia tidak dapat merasakan bahwa pakaiannya apik. Ia merasa ada yang kurang, tidak dapat merasa tenteram. Demikian pula orang yang sombong, ia selalu merasa lebih unggul daripada orang lain.

Ketika dihinggapi rasa iri dan sombong, orang tidak dapat merasakan rasa hidup yang benar. Pandangannya gelap. Meski ia sudah memiliki sesuatu yang berharga (dapat membuat rasa senang, dapat membuat rasa kenyang, dan sebagainya), ia tidak dapat merasa senang karena masih menginginkan apa yang dimiliki oleh orang lain.

Dengan kesombongannya, ia tidak dapat memiliki rasa sama dengan orang lain. Padahal, rasa sama ini merupakan sumber kebahagiaan. @

M.M Nilam Widyarini, M.Si
Kandidat Doktor Psikologi

0 comments:

Post a Comment